Trending Post...

Sunday, December 5, 2010

Tips n' Trick : Tumpatan Kelas IV dengan Warna Komposit Tidak Lengkap

pernahkah anda jengkel dengan hasil restorasi tumpatan klas IV anda? atau pernahkah anda kena komplain pasien karena warna giginya berbeda terlalu mencolok? kalau pernah maka normal saja, apa yang perlu anda lakukan hanya melakukan tindakan yang solutif dan aplikatif.

solusi paling cepat tentu saja sediakan warna dengan lengkap selengkap-lengkapnya, dengan ini maka kemungkinan warna yang belang akan terminimalisir. Tapi apakah memang tidak ada jalan lain? ya kalau dekat dengan supplier, ya kalau budget ada, kalau keadaan serba tidak memungkinkan dan anda menginginkan dapat memberi pelayanan optimal, saya akan berbagi sedikit tips tentang masalah tersebut.

masalah utama kasus tumpatan klas IV pada umumnya adalah warna yang tidak sesuai dengan gigi yang sehat atau warna dentin yang terlalu terang. kalau tersedia opaquer maka tidak menjadi masalah, namun biasanya pada klinik yang biasa-biasa saja (seperti punya saya tentunya-red) maka biasanya hanya tersedia warna dentin yang universal. Bahan ini cukup bagus namun pada umumnya tampak terlalu opaque. Hasilnya apabila sudah diaplikasikan komposit universal kemudian biasanya warna dentin akan lebih menonjol, tampak cenderung lebih putih mengingat warna komposit universal lebih translusen. 

Nah mari sedikit saya sharing tentang apa yang biasanya saya lakukan pada kasus tersebut. ambil contoh misalnya pasien setelah dicocokkan dengan shade guide memiliki warna A 3,5 (harap jangan berpatokan hanya dengan shade guide, bisa digunakan komposit yang dikeraskan tanpa etsa-bonding kemudian disinar, lihat kecocokannya), baiklah kita kita sudah dapat A 3,5 kemudian lakukan prosedur pembuatan dinding palatinal, bisa dengan teknik selluloid strip maupun dengan mock up(bentuk dinding palatal sampai separo incisolabial dengan komposit yang sudah Expired kemudian disinar tanpa etsa-bonding, cetak dengan PVS tanpa bagian labialnya. kemudian buat dinding palatal dengan cetakan PVS tersebut). sesudah dinding palatinal lanjutkan dengan warna dentin, gunakan warna dentin universal kemudian bentuk efek mamelonnya. trik akan dimulai setelah tahap ini, kalau anda langsung menggunakan komposit universal warna A 3,5 maka yang terjadi warna dentin akan tampak lebih opaque. Solusinya gunakan warna 1 tingkat lebih muda dari warna gigi pasien untuk melapisi komposit dentin universal, jadai dalam kasus ini gunakan warna komposit universal A 3 untuk melapisi komposit dentin universal yang opaque tadi. baru kemudian gunakan warna gigi pasien A 3,5 untuk lapisan selanjutnya. langkah terakhir gunakan warna enamel dan bahan glossy. Lakukan finishing dan polishing dan anda akan mendapati restorasi yang berbeda dibandingkan apa yang sudah biasa dilakukan. 

Hasil yang didapat memang tidak sesempurna apabila terdapat kelengkapan warna namun dari beberapa kasus yang pernah saya lakukan pada umumnya pasien puas. Selamat mencoba tips ini namun saya harus mengakui bahwa solusi yang paling ideal adalah menggunakan warna dentin yang sesuai. Salam

Dental Nurse "bukan sekedar pelengkap penderita"


Perawat gigi atau di Indonesia lebih dikenal sebagai asisten dokter gigi adalah profesi yang tidak terpisahkan dari suatu produk layanan medik gigi. Alasan mengapa istilah asisten dokter gigi lebih dikenal daripada istilah perawat gigi sebenarnya tidak lepas dari kebijakan yang berlaku di Indonesia mengenai perawat gigi (dental nurse), diantara beberapa model perawat gigi yang ada, Indonesia menganut model dental assistant atau asisten dokter gigi. Model lain dari perawat gigi adalah dental hygienist
Kemampuan inti seorang perawat gigi diantaranya adalah manajemen termasuk di dalamnya adalah komunikasi, pengawasan penularan infeksi, pemeliharaan dan penggunaan peralatan, peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut, perlindungan khusus, tindakan asuhan keperawatan di klinik dan beberapa yang lain dimana salah satunya berkaitan dengan peran perawat gigi sebagai asisten dokter gigi. Seorang perawat gigi profesional dituntut kompeten mulai dari hal manajemen klinik sampai ke situasi dimana seorang dokter gigi terpaksa melakukan pelimpahan tugas apabila memang diperlukan. 
Eksistensi dalam perannya sebagai bagian dari tim memunculkan rasa percaya diri dan semakin berkembang dengan baik apabila dokter gigi juga memberikan kesan bahwa perawat gigi yang ada bersamanya di ruang praktek tersebut berfungsi sebagai partner kerjanya dan bukan sekedar “pelengkap” di ruang praktek. Disadari atau tidak kecermelangan seorang dokter tidak lepas dari peran perawat gigi, jadi tidak rugi apabila seorang dokter gigi memberikan apresiasi kepada partnernya tersebut sebagai bagian dari wujud terimakasih bahwa dirinya sudah terbantu dalam menjalankan praktek. 
jadi masihkah anda hanya sebagai pelengkap? i don't think so. pengalaman praktek saya membuktikan bahwa tetap lebih nyaman dengan adanya partner saat kita bekerja, sekali lagi partner bukan pembantu. salam hormat saya untuk rekan perawat gigi di seluruh Indonesia.
nb: ringkasan dari majalah dental&dental edisi september-oktober


Thursday, September 23, 2010

Direct Labial Composite Veneer: solusi hemat estetika anda

Dewasa ini dimana kebutuhan semakin meningkat termasuk diantaranya memenuhi kebutuhan akan kecantikan dan penampilan, gigi adalah salah satu faktor penentu "kecermelangan" wajah anda sehingga akhir-akhir ini perawatan gigi mulai bergeser tidak hanya sekedar menyembuhkan tapi lebih pada meningkatkan penampilan. 

Untuk anda yang memiliki masalah penampilan gigi terutama gigi-gigi depan seperti warna yang berubah kehitaman/kecoklatan, susunan yang sedikit kurang rapi atau rusak karena berbagai faktor seperti kecelakaan, kebiasaan makan/minum yang mengandung asam mungkin ingin gigi anda kembali seperti semula. Masalahnya adalah biasanya anda akan ditawarkan untuk dibuatkan mahkota jaket poselen, memang harus diakui bahwa perawatan tersebut ideal tapi idealkah dengan kondisi keuangan anda? kemudian anda mundur dan tidak jadi melakukan perawatan, pertanyaannya sudahkah anda bertanya solusi lainnya?

Perkembangan bahan-bahan tambalan terbaru sudah memungkinkan untuk dilakukan covering pada gigi yang bermasalah seperti tersebut di atas. dengan biaya yang lebih hemat anda akan memiliki penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi jangan ragu untuk bertanya kepada dokter gigi anda apakah ada solusi lainnya untuk barbagai permasalahan anda, untuk kasus ini Direct Labial Composite Veneer layak menjadi pertimbangan anda, salam...

Tuesday, September 21, 2010

Mencegah Anak makan manis tidak harus dengan Melarang

Apa yang terlintas di benak kita saat melihat makanan yang serba manis? Siapapun kita, masih sehat maupun yang jelas-jelas sudah dilarang makan atau minum manis pasti ngiler. Kue-kue manis, kembang gula, minuman-minuman racikan yang sangat menggoda ketika tersaji di depan kita.

Tahukah anda bahwa memang sejak kita masih kecil memang sudah sedemikian terbiasa dengan yang manis-manis, secara alami bayi akan suka dengan makanan dan minuman yang manis dan tanpa sadar hal tersebut seakan menjadi “senjata” bagi orang tua agar anak tidak rewel. Mari kita ambil contoh, kalo anak menangis, maka ibu akan mengambil botol susu yang ditambah dengan gula (padahal susu yang beredar di pasaran rata-rata sudah ditambah dengan gula) parahnya lagi ada yang memang mengisi botol tersebut dengan air gula. Kemudian kalo bayi tidak mau tidur atau susah tidur maka kembali senjata ampuh dikeluarkan.
Dua contoh sederhana ini akan berdampak luar biasa, gula dari gula pasir yang biasanya ditambahkan akan memiliki akibat yang kurang baik bila berlebihan diberikan bahkan ketika usia dini yang dikatakan sedang masa pertumbuhan, memang benar masa pertumbuhan tapi yang dibutuhkan lebih pada nutrisi yang seimbang dan rasional. Dampak yang paling cepat terlihat adalah yang mempengaruhi gigi geligi anak, gigi menjadi keropos dan rusak sebelum waktunya tanggal. Ironisnya kebanyakan orang tua beranggapan bahwa gigi anak yang keropos wajar-wajar saja kan masih anak-anak dan nanti juga ada gantinya. Dampak lainnya adalah terjadinya gangguan penyerapan nutrisi dan memudahkan timbulnya gas di lambung. Kalo sudah demikian masihkah orang tua akan menganggap gula amat sangat penting untuk selalu diberikan?
Bagaimana kalau memang dilarang memberikan gula pasir ke anak? Sekali lagi bahwa bukan dilarang, bagaimanapun juga gula adalah salah satu sumber energi yang dibutuhkan untuk aktivitas anak-anak namun perlu lebih bijaksana dalam memberikannya. Mungkin sedari awal dicoba untuk memberikan jenis makanan yang beraneka ragam mulai dari jenis dan rasa, dengan demikian maka anak akan memiliki pengalaman yang lebih banyak tentang rasa dan tidak akan tergantung pada rasa manis semata. Kebiasaan memberikan asupan dengan kandungan gula berlebih akan memicu masalah di kemudian hari seperti penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan tekanan darah tinggi. Anak-anak yang memang pada dasarnya memiliki kecenderungan yang besar terhadap makanan manis akan merasa terdukung dengan kebiasaan makan yang manis-manis.
Bagaimana kalau ternyata sudah melakukan usaha pembatasan tapi kendala muncul dari anak yang sangat obsesif terhadap makanan yang manis-manis? Jangan menyerah, mari kita coba selami pikiran anak tersebut, bisa jadi pembatasan yang kita lakukan ternyata malah semakin membuat anak semakin terobsesi. Anak-anak adalah pribadi yang unik, pada usia tersebut anak-anak mulai menunjukkan eksistensi dirinya, salah satunya dengan meninggikan egonya, hasilnya adalah semakin dilarang akan semakin keras usaha anak untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sebagai orang tua yang cerdas tentu saja hal ini akan menjadi tantangan tersendiri, percayalah masih ada jalan yang harus dicoba dan dilakukan. Bagaimana kalau kita beri saja yang dia minta? apa ini sama dengan menyerah? Jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Ya karena kita menyerah dengan cara-cara otoriter, Tidak karena kita hanya sekedar mengubah taktik untuk sedikit berkomunikasi dengan pikiran si anak.
Pernahkah anda mendengar bahwa kata-kata negatif seperti “tidak” dan “jangan” akan diartikan berbeda oleh pikiran bawah sadar kita? Meskipun tujuannya positif tetap akan berdampak sebaliknya oleh bawah sadar seseorang. Juli Triharto, seorang pakar hipnoterapi mengatakan dalam bukunya Hypnolangsing, bahwa lebih baik menggunakan kata-kata yang tidak mengandung unsur negatif agar tidak mengubah tujuan awal yang semula bertujuan positif.
Kalau menggunakan kata-kata yang positif lalu bagaimana sebaiknya? Apakah bisa kita bilang ya makan saja tidak apa-apa lalu kita biarkan saja demikian? Tentu tidak, kita sebaiknya menggunakan prinsip tell-show-do, anak harus diajak bicara pelan-pelan (tell) tentang manfaat dan akibat yang ditimbulkan oleh makanan yang terlalu manis. Meskipun masih anak-anak mereka juga mampu untuk berpikir dan mengolah suatu ide. Katakan pada anak anda silakan makan, tidak apa-apa makan cokelat, permen asal sikat giginya yang rajin, hobi kumur-kumur setelah makan terutama makan yang manis-manis dan kenalkan mereka tentang makanan-makanan lainnya yang anda berikan. Semakin mereka paham apa yang anda berikan maka semakin mudah mereka menerimanya, semakin beragam jenis makanan yang mereka makan maka semakin berkurang ketergantungan mereka terhadap makanan manis.
Langkah selanjutnya adalah contoh nyata dari orang tua (show), tidak akan mungkin si anak akan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan kalau orang tua tidak melakukannya juga, hal ini berarti sebagai orang tua juga berubah secara nyata di depan anak-anak. Yang terakhir adalah lakukan (do) dengan konsisten dan kurangi efek paksaan dan kata-kata berunsur negatif.
Langkah sederhana yang efektif, hubungan orang tua juga akan semakin dekat, orang tua tidak akan menjadi seseorang yang ditakuti bahkan akan lebih menjadi “teman” mereka, silakan mencoba semoga berhasil.







Saturday, August 21, 2010

"Halo adek kecil, ga dilarang kok makan cokelat"


Apa yang akan anda lakukan bila anak anda yang masih balita merengek minta dibelikan cokelat atau makanan manis lainnya? langsung memberikan, melarang atau memberikan dengan memberikan pengertian?

Kalau langkah yang anda ambil adalah opsi yang ketiga maka benarlah langkah anda itu, sekarang ini dengan arus informasi yang sedemikian hebat maka para orang tua sadar betul tentang pencegahan gigi berlubang. Kalau langkah sudah benar kenapa masih ditulis? pasti anda bertanya-tanya kenapa penulis menulis sesuatu yang ga penting kaya gini?

Baiklah akan saya jelaskan maksudnya, memberi dengan memberi pengertian merupakan langkah tepat yang bijaksana, sebab dengan adanya pengertian maka si anak akan mengerti mengapa dia harus seperti itu. Berbeda kalau hanya dilarang maka si anak akan semakin berusaha untuk break the rule. Pertanyaannya adalah bagaimana memberi pengertian yang efektif? ada tips yang akan saya ungkapkan di sini yaitu, mulailah perlakukan si anak sebagai sebuah pribadi yang memiliki kedaulatan, simpelnya hargailah dirinya, perlakukan dia sebagaimana anda ingin diperlakukan, beri pemahaman dengan perlahan, susah? memang, gagal! yaa... coba lagi :)

Yang kedua usahakan hindari kata-kata yang negatif, misal, "boleh makan cokelat tapi kalo gak gosok gigi awas lho dek!" atau "ini makan aja tapi "JANGAN" lupa gosok gigi", gimana menurut anda? menurut penelitian otak kita akan menginterpretasikan yang sebaliknya dari sebuah larangan walaupun larangan yang baik.

Coba diganti dengan kalimat "Boleh kok sayang dimakan aja tapi abis makan ntar sikat gigi bareng sama papa/mama yaa", dengan maksud yang sama maka anak akan merasa dihargai apalagi dibumbui dengan ajakan menyikat gigi bersama yang menyenangkan baginya.

baiklah silakan dicoba, cobalah lebih kreatif dalam mengolah kata-kata, jadi tetap ingat yang pertama hargailah anak anda, jadikan dia teman terdekat anda yang kedua hindari memberi perintah dengan kata-kata negarif, Salam.....