Trending Post...

Saturday, May 29, 2010

Ekstrusi Pasta kalsium Hidroksid pada antar waktu perawatan Endodontik : case report


Pasta Kalsium hidroksid terkadang kita gunakan dalam antar waktu perawatan endodontik sebagai medikamen dressing, kalo ternyata keluar ke jaringan periapikal bagaimana ya????

File Patah??? ada solusinya.....


Perawatan endodontik kadang bisa berubah menjadi sebuah tragedi, misalnya saat K-file yang kita gunakan patah di dalam saluran akar.

Ada artikel yang bagus saya ambil dari sebuah blog endo (www.theendoblog.com), semoga bisa menambah wawasan kita...

Wednesday, May 26, 2010

Kesehatan gigi dan mulut bagi ibu hamil

Dok, kenapa jika saya sedang hamil, gigi dan gusi seringkali terasa sakit. Gusi mudah berdarah di beberapa tempat dan bentuknya berbenjol-benjol?

Demikian keluhan ibu hamil ketika mengunjungi dokter gigi. Kehadiran anak bagi setiap keluarga adalah sesuatu yang sangat istimewa dan dinanti-nantikan kehadirannya. Kehamilan adalah masa-masa yang penuh perhatian, baik untuk ibu hamil juga si jabang bayi.

Pada saat ini ibu hamil betul-betul harus menjaga kondisi kesehatan dengan baik, mengonsumsi berbagai jenis makanan dan vitamin demi kesehatan ibu dan bayinya. Kehamilan adalah suatu proses fisiologis yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada tubuh wanita, baik fisik maupun psikis.

Keadaan ini disebabkan adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron. Saat kehamilan disertai berbagai keluhan lain seperti ngidam, mual, muntah termasuk keluhan sakit gigi dan mulut. Kondisi gigi dan mulut ibu hamil seringkali ditandai dengan adanya pembesaran gusi yang mudah berdarah karena jaringan gusi merespons secara berlebihan terhadap iritasi lokal.

Bentuk iritasi lokal ini berupa karang gigi, gigi berlubang, susunan gigi tidak rata atau adanya sisa akar gigi yang tidak dicabut. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan ibu pada saat tidak hamil.

Pembesaran gusi ibu hamil biasa dimulai pada trisemester pertama sampai ketiga masa kehamilan. Keadaan ini disebabkan aktivitas hormonal yaitu hormon estrogen dan progesteron. Hormon progesteron pengaruhnya lebih besar terhadap proses inflamasi/peradangan. Pembesaran gusi akan mengalami penurunan pada kehamilan bulan ke-9 dan beberapa hari setelah melahirkan. Keadaannya akan kembali normal seperti sebelum hamil.

Pembesaran gusi ini dapat mengenai/menyerang pada semua tempat atau beberapa tempat (single/multiple) bentuk membulat, permukaan licin mengilat, berwarna merah menyala, konsistensi lunak, mudah berdarah bila kena sentuhan.

Pembesaran gusi ini di dunia kedokteran gigi disebut gingivitis gravidarum/pregnancy gravidarum/hyperplasia gravidarum sering muncul pada trisemester pertama kehamilan. Keadaan di atas tidaklah harus sama bagi setiap ibu hamil.

Faktor penyebab timbulnya gingivitis pada masa kehamilan dapat dibagi 2 bagian, yaitu penyebab primer dan sekunder.

1. Penyebab primer

Iritasi lokal seperti plak merupakan penyebab primer gingivitis masa kehamilan sama halnya seperti pada ibu yang tidak hamil, tetapi perubahan hormonal yang menyertai kehamilan dapat memperberat reaksi peradangan pada gusi oleh iritasi lokal.

Iritasi lokal tersebut adalah kalkulus/plak yang telah mengalami pengapuran, sisa-sisa makanan, tambalan kurang baik, gigi tiruan yang kurang baik.

Saat kehamilan terjadi perubahan dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang bisa disebabkan oleh timbulnya perasaan mual, muntah, perasaan takut ketika menggosok gigi karena timbul perdarahan gusi atau ibu terlalu lelah dengan kehamilannya sehingga ibu malas menggosok gigi. Keadaan ini dengan sendirinya akan menambah penumpukan plak sehingga memperburuk keadaan.

2. Penyebab sekunder

Kehamilan merupakan keadan fisiologis yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan mempunyai efek bervariasi pada jaringan, di antaranya pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah sehingga gusi menjadi lebih merah, bengkak dan mudah mengalami perdarahan.

Akan tetapi, jika kebersihan mulut terpelihara dengan baik selama kehamilan, perubahan mencolok pada jaringan gusi jarang terjadi. Keadaan klinis jaringan gusi selama kehamilan tidak berbeda jauh dengan jaringan gusi wanita yang tidak hamil, di antaranya;

a. Warna gusi, jaringan gusi yang mengalami peradangan berwarna merah terang sampai kebiruan, kadang-kadang berwarna merah tua.

b. Kontur gusi, reaksi peradangan lebih banyak terlihat di daerah sela-sela gigi dan pinggiran gusi terlihat membulat.

c. Konsistensi, daerah sela gigi dan pinggiran gusi terlihat bengkak, halus dan mengkilat. Bagian gusi yang membengkak akan melekuk bila ditekan, lunak, dan lentur.

d. Risiko perdarahan, warna merah tua menandakan bertambahnya aliran darah, keadaan ini akan meningkatkan risiko perdarahan gusi.

e. Luas peradangan, radang gusi pada masa kehamilan dapat terjadi secara lokal maupun menyeluruh. Proses peradangan dapat meluas sampai di bawah jaringan periodontal dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada struktur tersebut.

Tindakan penanggulangan/perawatan radang gusi pada ibu hamil dibagi dalam 4 tahap, yaitu:

1. Tahap jaringan lunak, iritasi lokal merupakan penyebab timbulnya gingivitis. Oleh karena itu, tujuan dari penanggulangan gingivitis selama kehamilan adalah menghilangkan semua jenis iritasi lokal yang ada seperti plak, kalkulus, sisa makanan, perbaikan tambalan, dan perbaikan gigi tiruan yang kurng baik.

2. Tahap fungsional, tahap ini melakukan perbaikan fungsi gigi dan mulut seperti pembuatan tambalan pada gigi yang berlubang, pembuatan gigi tiruan, dll.

3. Tahap sistemik, tahap ini sangat diperhatikan sekali kesehatan ibu hamil secara menyeluruh, melakukan perawatan dan pencegahan gingivitis selama kehamilan. Keadaan ini penting diketahui karena sangat menentukan perawatan yang akan dilakukan.

4. Tahap pemeliharaan, tahap ini dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit periodontal setelah perawatan. Tindakan yang dilakukan adalah pemeliharaan kebersihan mulut di rumah dan pemeriksaan secara periodik kesehatan jaringan periodontal.

Sebagai tindakan pencegahan agar gingivitis selama masa kehamilan tidak terjadi, setiap ibu hamil harus memperhatikan kebersihan mulut di rumah atau pemeriksaan secara berkala oleh dokter gigi sehingga semua iritasi lokal selama kehamilan dapat terdeteksi lebih dini dan dapat dihilangkan secepat mungkin. (drg. R. Ginandjar Aslama Maulid)

Penulis adalah dokter gigi di RS Al Islam Bandung.

Sumber : pikiran-rakyat.com

Sunday, February 21, 2010

Dokter/dokter gigi Keluarga ??? bisa-bisa aja...!


Mungkin sahabat semua pernah membaca artikel tentang dokter gigi keluarga di blog ini sebelumnya yang mengesankan program ini bagaikan sesuatu yang mustahil dilakukan di negara kita. Memang dalam konsep yang ideal akan sangat sulit dilakukan, apa sih konsep idealnya? yaitu paradigma sehat mulai dari penanggungjawab program dalam hal ini pemerintah, pelaksana program yaitu tenaga medis dan yang terakhir dan yang paling penting yaitu masyarakat sebagai user.
Mengapa paradigma itu menjadi sulit? atau dibuat sulit tepatnya? tidak lain karena belum adanya komitmen dari penanggungjawab untuk tidak berpolapikir instan, mengapa saya sebut instan? ya karena pemerintah dalam hal ini selalu mengesampingkan salah satu pilar utama pelayanan kesehatan yaitu preventif, selama ini tindakan preventif cenderung mengarah ke interseptif bahkan kuratif, padahal mereka tahu bahwa tanpa kesadaran preventif di masyarakat maka memang akan mustahil untuk meniadakan tindakan kuratif sedangkan tindakan kuratif itu berapapun biaya "penjaminan kesehatan" dari pemerintah saya jamin tidak akan cukup dan tidak akan merata.
Lalu mengapa bisa terjadi demikian? jawabannya mungkin akan sedikit berpolitik, tapi akan saya coba untuk menjawab. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di negara tercinta Indonesia ini suatu kementrian begitu berganti menteri maka akan berganti pula kebijakannya termasuk di sini kementrian kesehatan. Sehingga program seperti dokter keluarga yang notabene tidak bisa instan dan cenderung rumit ini menjadi tidak populer bagi sang menteri. bayangkan dalam waktu 5 tahun kementrian harus mampu membuat progress yang terlihat sehingga menjadi sebuah prestasi, maka sebagai manusia yang yang memiliki akal dan logika, maka sang menteri akan mengarahkan pada kebijakan instan tadi seperti misalnya program jaminan kesehatan (jamkesmas, jamkesda, jamkessos, dll.)

Memang tidak ada yang meragukan bahwa program dokter keluarga itu sulit tapi kapan mau maju kalo tidak ada rintisannya, tentunya para dokter akan ingat bagaimana dulu saat latihan menyuntik pertama kali, latihan incisi (mengiris dengan pisau bedah-red) pertama kali tentu sulit bukan? yang dibutuhkan adalah suatu komitmen yang kuat dari pemerintah dalam hal ini depkes.

Tahun 2007 di Kota Bontang dicanangkan pilot project pelayanan dokter/dokter gigi keluarga, bisa dibaca artikelnya di SINI, dalam artikel tersebut arahnya sudah tampak menuju ke arah yang benar yaitu bahwa yang namanya dokter keluarga itu harus berparadigma sehat, apa artinya? seorang dokter keluarga bukanlah seorang "penjaga gawang" yang menunggu orang sakit yang datang ke tempat praktek ,melainkan seorang stiker yang menjemput bola. "bola" tersebut kemudian diolah dengan keilmuannya menjadikan masyarakat di wilayah kerjanya menjadi sehat dan apabila memang diperlukan barulah sebuah tindakan kuratif diberikan.
Semoga tetap berlanjut dan menular ke daerah-daerah yang lain. (Dimas)

Sunday, September 13, 2009

The Miracle Of Whole Wheat Bread...!!!











Roti gandum lebih menyehatkan dibandingkan dengan roti putih. Selain unggul dalam berbagai zat gizi, roti gandum dapat menurunkan kolesterol dan risiko terkena penyakit jantung, serta baik dikonsumsi diabetesi. Bila sedang berbelanja di toko roti, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, kita akan menemukan roti tawar berwarna kecokelat-cokelatan berlabel “100% Whole Wheat Flour“, itulah roti gandum. Dibandingkan roti putih yang banyak beredar di pasaran, roti gandum memang kurang populer. Selain roti gandum lebih mahal dan sulit didapat, secara psikologis roti putih dianggap lebih bersih, murni, bebas cemaran, dan lebih aman untuk dikonsumsi. Roti putih juga memiliki tekstur yang lebih lembut daripada roti gandum. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen tentang pengaruh kesehatan dari makanan, roti gandum mulai digemari karena lebih menyehatkan daripada roti putih. Gandum UtuhSebenarnya roti gandum dan roti putih tidak jauh berbeda. Keduanya berasal dari gandum. Perbedaannya, roti putih terbuat dari tepung terigu, sedangkan roti gandum dari tepung gandum. Tepung terigu merupakan hasil penggilingan biji gandum yang paling dalam (endosperm), sedangkan tepung gandum hasil penggilingan biji gandum utuh yang hanya dibuang kulit luarnya saja, sehingga kandungan seratnya lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu putih. Itu sebabnya makan roti gandum akan terasa lebih cepat kenyang dan dapat menahan rasa lapar lebih lama. Cara pembuatan roti putih dengan roti gandum juga tidak jauh berbeda. Tepung gandum dicampurkan menggunakan mikser dengan air, ragi, dan sedikit garam hingga merata. Setelah adonan kalis, adonan didiamkan beberapa menit agar gasnya keluar. Setelah itu, roti siap untuk dipanggang. Jika hendak membeli roti gandum, sebaiknya perhatikan label kemasan dengan baik karena terdapat banyak jenis roti gandum. Ada yang 100 persen terbuat dari tepung gandum, ada yang 50 persen campuran tepung gandum dengan 50 persen tepung terigu, dan ada pula yang terbuat dari tepung terigu ditambah tepung gandum dalam jumlah sedikit. Ada juga yang menambahkan karamel agar terlihat seperti roti gandum. Roti gandum asli adalah roti yang terbuat dari 100 persen tepung gandum. Roti gandum yang berkualitas baik dapat dilihat dari remah berwarna gelap dan memiliki butiran-butiran cokelat dari kulit ari biji gandum. Roti gandum asli juga dapat dilihat dari kulit roti (crust) yang lebih gelap dan kasar, sedangkan roti putih cenderung berwarna kuning keemasan. Kaya Serat Pangan Dibanding nasi dan mi yang sering kita konsumsi, roti sebenarnya merupakan sumber energi yang lebih baik. Kandungan energi per 100 gram nasi adalah 178 kkal, per 100 gram mi 86 kkal, sedangkan per 100 gram roti dapat mencapai 248 kkal. Kandungan seratnya juga lebih baik, sehingga dapat menahan rasa lapar lebih lama. Namun, faktor psikologis yang mengatakan “tidak makan nasi berarti belum makan” membuat orang setelah mengonsumsi roti tetap saja belum merasa kenyang. Kandungan gizi roti gandum lebih unggul dibandingkan dengan roti putih. Kandungan serat pangan (dietary fiber) pada roti gandum hampir enam kali lipat kandungan serat pada roti putih. Konsumsi 100 gram roti gandum atau setara dengan empat kering roti, mengandung serat sebanyak 12,2 gram. Sementara 100 gram roti putih hanya mengandung 2,7 gram serat, atau hanya seperenam dari serat yang terdapat pada roti gandum. Selain itu, roti gandum mempunyai kandungan karbohidrat dan energi sedikit lebih rendah dibandingkan dengan roti putih. Hal itu yang menyebabkan roti gandum baik untuk tujuan diet. Roti gandum dapat membantu menahan rasa lapar lebih lama karena kandungan seratnya tinggi. Menurut Dietary Guidelines for American, kandungan serat yang tinggi juga dapat menghindari kelebihan lemak, lemak jenuh, dan kolesterol; gula dan natrium; serta membantu mengontrol berat badan. Makanan kaya serat juga dapat memperlambat proses penyerapan energi lebih lama. Hal itu disebabkan makanan kaya serat meningkatkan intensitas pengunyahan, memperlambat proses makan, dan menghambat laju pencernaan makanan. Akibatnya energi yang masuk dalam tubuh lebih efisien, sehingga tidak berubah menjadi lemak. Serat juga meningkatkan ekskresi lemak, sehingga dapat membantu mengurangi berat badan. Roti gandum juga sangat baik bagi penderita sembelit. Menurut Linder (1992), serat pangan dapat melembekkan feses, sehingga mengurangi tekanan pada dinding kolon dan mempercepat pengeluarannya karena gerakan peristaltik usus besar menjadi lebih cepat. Meski demikian, roti gandum sebaiknya dibatasi konsumsinya pada anak-anak balita karena mereka belum memiliki saluran pencernaan yang cukup baik, sehingga belum mampu mencerna makanan tinggi serat seperti roti gandum.Unggul Vitamin dan Mineral Dibandingkan dengan roti putih, roti gandum memiliki keunggulan dalam hal vitamin B2, B6, E, niasin, asam folat, magnesium, besi, tembaga, seng, mangan. Zat besi roti gandum tiga kali lebih banyak daripada roti putih yang belum diperkaya aneka zat gizi, sedangkan vitamin E-nya 16 kali lebih banyak. Kandungan riboflavin {vitamin B2) juga 2,5 kali lebih banyak, niasin (4 kali), vitamin B6 (7,5 kali), dan asam folat (1,6 kali). Tingginya nilai gizi roti gandum nembuatnya tidak kalah dari roti putih yang difortifikasi. Namun, lebih baik membeli roti gandum yang telah ditambah kalsium dan berbagai vitamin. Belakangan ini, roti diperkaya asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA), terutama kelompok omega-3 seperti EPA {asam esikosapentaenoat) dan DHA (asam dokosaheksaenoat). Penelitian membuktikan, PUFA dapat meningkatkan kemampuan anak untuk memusatkan perhatian dan penglihatan (visual}, serta memecahkan masalah. Penting Bagi yang Pramenopause Perempuan yang memasuki usia menopause sebaiknya memperbanyak konsumsi roti gandum yang kaya fitoestrogen. Fitoestrogen bersumbec pada pangan nabati (seperti gandum) dan berperan seperti hormon estrogen pada perempuan yang masih subur. Fitoestrogen menghambat terjadinya menopause, membuat jantung lebih sehat, dan menurunkan risiko kanker. Menopause terjadi ketika indung telur semakin sedikit menghasilkan hormon estrogen. Selama menopause, fitoestrogen akan mengisi reseptor estrogen yang kosong dan memunculkan efek pro-estrogenik. Makanan kaya fitoestrogen juga meningkatkan kandungan mineral pada tulang. Makanan kaya fitoestrogen adalah alternatif untuk pengganti terapi sulih hormon, sebagai salah satu upaya pencegahan osteoporosis.Kejadian penyakit jantung di kalangan wanita usia subur relatif rendah, tetapi angkanya meningkat tajam pada wanita menopause. Berkurangnya estrogen berakibat pada menurunnya peran protektif terhadap jantung. Studi membuktikan, fitoestrogen menurunkan proses aterosklerosis dan menghambat oksidasi kolesterol LDL (low density lipoprotein). Fitoestrogen yang berperan mempertahankan level estrogen, diduga menurunkan risiko kanker payudara dan indung telur. Riset tentang fitoestrogen masih terus berlanjut untuk lebih memantapkan keuntungan dan kerugiannya. Penggunaan fitoestrogen yang bersumber dari makanan diyakini merupakan cara aman untuk mempertahankan aktivitas hormon estrogen di dalam tubuh wanita. Turunkan Kolesterol, Reduksi Penyakit Jantung Roti gandum juga disarankan bagi mereka yang kadar kolesterolnya tinggi. Serat pangan dapat menurunkan kadar kolesterol darah karena serat mampu mengikat asam empedu. Ikatan ini akan keluar bersama feses, lemak, dan kolesterol. Semakin banyak serat pangan dikonumsi, semakin banyak pula asam empedu, lemak, dan kolesterol yang dikeluarkan dari tubuh bersama feses. Serat pangan dapat mengurangi risiko penyakit kanker yang disebabkan sist

em pencernaan yang tidak sempurna. Serat pangan mampu menurunkan transit time, yaitu waktu yang dibutuhkan makanan sejak dari rongga mulut hingga sisa makanan dikeluarkan dalam bentuk feses. Sementara itu, serat pangan akan mengikat zat-zat karsinogenik. Berkat penurunan transit time, waktu zat karsinogenik bermukim dalam tubuh juga makin pendek, sehingga kesempatan untuk membahayakan tubuh juga semakin kecil. Roti gandum juga dapat mereduksi risiko penyakit jantung. Menurut riset yang dilakukan oleh University of Washington dan dipublikasikan dalam journal of The American Medical Association, konsumsi roti gandum dapat mereduksi penyakit jantung hingga 20 persen! 2 Potong = 1 Mangkuk Beras Merah Roti gandum juga sangat baik bagi diabetesi. Sebuah publikasi yang dikeluarkan American Journal of Public Health, wanita yang mengonsumsi lebih banyak produk gandum utuh seperti roti gandum, risikonya menderita diabetes tipe-2 lebih rendah dibandingkan dengan yang mengonsumsi lebih banyak gandum olahan. Gandum olahan menghasilkan kadar gula darah lebih dari dua kali lipat jumlah yang dihasilkan gandum utuh. Karena gandum utuh menghasilkan kadar gula darah lebih rendah, tubuh tidak perlu memproduksi insulin lebih banyak untuk mengolah makanan tersebut. Tentu saja ini sangat bermanfaat bagi penderita diabetes melitus. Selain itu, gandum utuh mengandung berbagai vitamin dan zat gizi yang berperan penting dalam memperkecil risiko penyakit tersebut. Menurut Dr. Simin Liu dari Harvard Medical School di Boston, Amerika Serikat, konsumsi dua potong roti gandum sama dengan semangkuk beras merah (brown rice) yang dapat menurunkan risiko diabetes hampir sepertiganya. Diabetes tipe-2 terjadi kalau tubuh tidak sanggup memberikan respon terhadap insulin, yaitu hormon yang membersihkan gala darah setelah makan dan menyimpannya di dalam selsel untuk digunakan sebagai energi. Kadar gala darah yang tinggi dapat mempertinggi risiko komplikasi diabetes, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan kebutaan.(senior)